Perintah Terutama di Perjanjian yang Baru

Letterstobeloved

Apa perintah Tuhan yang terutama?

Yang pertama terlintas dalam pikiran kita pastilah ini:

Markus 12:29-31 (TB)

29 Jawab Yesus: ”Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa.

30 Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu.

31 Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini.”

My Beloved, berhati-hatilah dalam menelaah ayat-ayat ini, karena ayat ini berbicara tentang LAW (hukum Taurat).

” Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. ” adalah intisari dari keseluruhan LAW (hukum Taurat) itu sendiri.

Kita sebagai anak-anak dan para gereja Perjanjian Baru, tidak lagi hidup berdasarkan LAW (hukum Taurat).

Mari kita kupas satu persatu untuk mendapatkan pemahaman yang benar mengenai ayat-ayat ini:


KONTEKS & AUDIENS

Untuk mengetahui konteks dari Markus 12:29-31 maka kita harus membaca dari ayat 28 terlebih dahulu.

28 Lalu seorang ahli Taurat, yang mendengar Yesus dan orang-orang Saduki bersoal jawab dan tahu, bahwa Yesus memberi jawab yang tepat kepada orang-orang itu, datang kepada-Nya dan bertanya: ”Hukum manakah yang paling utama?”

Konteks: Hukum yang paling utama (di dalam hukum taurat).

Audiens: Ahli Taurat (si penanya).


SAAT ITU YESUS HIDUP DI BAWAH HUKUM TAURAT
Banyak yang orang Kristen yang melewatkan detail ini:

Yesus hidup tepat di persimpangan masa di mana old covenant akan berakhir dan akan digantikan dengan new covenant (ditandai dengan karya salib Yesus Kristus). Semasa hidup-Nya, Yesus lahir, dibesarkan dan berada di bawah hukum Taurat. Sebagai seorang Rabbi/ Guru agama Yahudi, maka Yesus pun mengkotbahkan hukum Taurat. As a matter of fact, Jesus was the greatest law preacher!

Galatia 4:4 (TB)
Tetapi setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya, yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat.

(NKJV) But when the fullness of the time had come, God sent forth His Son, born of a woman, born under the law

Untuk menebus manusia yang hidup di bawah hukum Taurat, maka Yesus harus hidup sempurna di bawah kuasa hukum Taurat. SEM-PUR-NA.

Sebagaimana kita ketahui bersama, hanya Yesuslah satu-satunya manusia yang telah menjalani dan terbukti mampu hidup sempurna di bawah hukum Taurat.


APA FUNGSI DARI LAW (HUKUM TAURAT)?

Roma 3:19-20 (TSI)
19 Semua kutipan dari kitab hukum Taurat itu bukan hanya tentang bangsa-bangsa lain, tetapi juga orang Yahudi, yaitu bangsa yang mewarisi hukum Taurat! Ayat-ayat itu menunjukkan bahwa setiap orang dari bangsa mana pun tidak punya alasan untuk membenarkan diri di hadapan Allah. Semuanya pantas dihukum Allah.

20 Karena tidak ada seorang pun yang akan dibenarkan di hadapan Allah dengan melakukan hukum Taurat. Sebaliknya, hukum Taurat selalu menunjukkan dosa-dosa kita.

(NLT)
Obviously, the law applies to those to whom it was given, for its purpose is to keep people from having excuses, and to show that the entire world is guilty before God. For no one can ever be made right with God by doing what the law commands. The law simply shows us how sinful we are.

Fungsi dari hukum Taurat adalah untuk menunjukkan bahwa semua manusia memerlukan juru selamat – karena tidak ada satupun yang memenuhi syarat.

Saat manusia melihat hukum Taurat, manusia akan melihat bahwa standar Allah sebenarnya adalah KESEMPURNAAN SEJATI – sebuah standar yang tidak akan pernah bisa diraih oleh manusia. Manusia HARUS SEMPURNA untuk dapat melihat Tuhan (Ibr.12:14).

The purpose of the Law is simply to point to JESUS.

Jika kita perhatikan, sebagai seorang Rabbi (Law Preacher), Yesus hampir selalu mengutip hukum Taurat jika lawan bicara-Nya adalah orang Farisi atau ahli Taurat – baik pada saat menjawab pertanyaan jebakan atau menjelaskan sebuah konsep kepada mereka. Hal ini berbeda sekali pada saat Yesus berbicara dengan audiens selain para ahli taurat, Yesus hampir tidak pernah mengambil hukum Taurat sebagai landasan dalam pembicaraan-Nya.

Di masa itu, para ahli Taurat merasa bahwa mereka telah hidup sempurna sesuai dengan ketetapan Tuhan. Sebenarnya, mereka melakukannya dengan menurunkan standar kesempurnaan hukum Taurat itu, ke level yang mereka sanggup untuk lakukan.

Berhadapan dengan para ahli taurat ini, Yesus harus berbicara dengan menggunakan standar hukum Taurat murni, yang bertujuan supaya para ahli Taurat inipun akan sadar bahwa merekapun sebenarnya tidak masuk dalam standar kesempurnaan hukum Taurat.

” Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. “, ini adalah sebuah STANDAR KESEMPURNAAN yang tidak akan mampu diraih oleh manusia. Kenyataannya, hanya ada 1 manusia yang sanggup melakukan ini, nama-Nya YESUS. Standar kesempurnaan Allah Bapa adalah Yesus. Kesempurnaan Yesus dianugerahkan kepada kita di saat kita menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat pribadi kita.


KARENA BEGITU BESAR KASIH-NYA

Allah mengetahui bahwa di bawah hukum Taurat, tidak seorang pun dapat mengasihi Dia dengan sempurna. Jadi, tahukah Anda apa yang Dia lakukan? Alkitab berkata, “Sebab begitu besar kasih Allah terhadap dunia ini sehingga Ia mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal.”

Ketika Allah Bapa mengutus Yesus, Ia sedang berkata “Aku tahu kamu tidak bisa mengasihi Aku dengan sempurna, jadi perhatikan Aku sekarang. Aku yang akan mencintaimu dengan segenap hati-KU, segenap jiwa-KU, segenap pikiran-KU, dan segenap kekuatan-KU.” Kemudian Dia merentangkan tangan-Nya lebar-lebar di atas kayu salib dan mati bagi kita.

Inilah yang Alkitab katakan tentang apa yang Yesus lakukan di kayu salib:

Roma 5:8 (TSI)

Tetapi Kristus mati bagi kita ketika kita masih hidup sebagai orang berdosa yang memusuhi Allah. Demikianlah Allah menunjukkan bahwa Dia sangat mengasihi kita.


JADI APA PERINTAH YANG TERUTAMA?

Perintah yang terutama di dalam Perjanjian yang Baru adalah:
PERCAYA AKAN NAMA YESUS KRISTUS, ANAK ALLAH.

1 Yohanes 3:23 (TB)

Dan inilah perintah-Nya itu: supaya kita percaya akan nama Yesus Kristus, Anak-Nya, dan supaya kita saling mengasihi sesuai dengan perintah yang diberikan Kristus kepada kita.

(NIV) And this is His command: to believe in the name of his Son, Jesus Christ, and to love one another as he commanded us.

Di Perjanjian yang Baru (New Covenant), kita bergantung dan percaya sepenuhnya kepada kekuatan Allah.

Kita tidak lagi mengandalkan kasih kita terhadap Tuhan tetapi kita percaya sepenuhnya terhadap kasih setia-Nya kepada kita.


BAGAIMANA KITA MENGASIHI?

Oleh karena Kasih Karunia (Grace), kita terlebih dahulu menerima kasih Tuhan yang melimpah ruah di dalam kita dan dari luapan kasih itu kita dimampukan oleh Tuhan untuk mengasihi orang lain. First thing first, we received from God. Barulah kemudian kita (dimampukan untuk) saling mengasihi satu sama lain.

Yohanes mencatat perkataan Yesus mengenai hal ini dengan sangat indah dan mendalam dengan 2 ayat ini:

Yohanes 13:34 (TB)
Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi.

(NLT) So now I am giving you a new commandment: Love each other. Just as I have loved you, you should love each other.

1 Yohanes 4:10 (TB)

Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita.

(NIV) This is love: not that we loved God, but that he loved us and sent his Son as an atoning sacrifice for our sins.

Those who are loved best, love best.

Scroll to Top