Pahami ini Saat Membaca Alkitab: Audiens & Konteks

Letterstobeloved

Dalam membaca Alkitab, ada 2 hal penting yang harus kita pahami yaitu Audiens dan Konteks.
Anda akan melihat betapa dua hal ini tidak hanya akan merubah total pemahaman anda terhadap Firman Tuhan yang selama ini anda pikir anda sudah mengerti, tetapi juga memberikan cahaya Ilahi untuk anda dapat memahami Firman-Firman Tuhan lainnya.

Seluruh Alkitab memang dituliskan UNTUK (FOR) kita tetapi tidak semua bagiannya dituliskan KEPADA (TO) kita.

AUDIENS

Audiens berbicara mengenai “SIAPA”

  • Kepada SIAPA ayat/ surat itu dituliskan?
  • SIAPA yang sedang dibicarakan?
  • Tentang SIAPA perihal yang sedang dibicarakan tersebut?

Di mata Tuhan, hanya ada 3 kategori kelompok manusia:

1 Korintus 10:32
Tetapi janganlah melakukan sesuatu yang dianggap salah, baik oleh orang Yahudi, orang bukan Yahudi, maupun saudara seiman dalam jemaat Allah.

Ketiga kelompok manusia tersebut adalah:

  • Orang Yahudi (Jews) – tidak beriman kepada Yesus.
  • Orang bukan Yahudi (Gentiles) – tidak beriman kepada Yesus.
  • Orang beriman (semua orang yang beriman kepada Yesus, sebagai Tuhan dan Juru Selamat pribadinya/ Believers).

Dengan berdasarkan informasi ini, maka kita harus tahu dahulu siapa audiens dari Firman Tuhan terkait yang sedang kita baca.

Hal ini penting sekali karena tidak semua ayat, maupun perkataan dalam Firman Tuhan, ditujukan kepada kita sebagai orang beriman. Bahkan banyak sekali ayat firman Tuhan, yang audiensnya bukanlah orang-orang beriman (non believers).

Jika dilihat dari kelompok orang-orang dalam hubungannya dengan Tuhan, maka secara garis besar periodenya bisa kita bagi sebagai berikut:

  • Kejadian 1 sampai Kejadian 11, Tuhan berurusan dengan kelompok orang bukan Yahudi.
  • Kejadian 12 sampai Kitab Kisah Para Rasul, Tuhan berurusan dengan kelompok orang Yahudi (umat Israel dari keturunan Abraham).

Mengapa Bangsa Yahudi?
Salah satu alasan utama Yesus datang ke dunia, adalah sebagai penggenapan seluruh janji-janji Allah terhadap nenek moyang bangsa Israel, Yaitu Abraham, Ishak dan Yakub.

Roma 15:8-9
Saya berkata begitu karena Kristus Yesus sudah menjadi hamba bagi bangsa Yahudi untuk menunjukkan bahwa Allah menepati semua janji-Nya kepada mereka. Dengan demikian, Kristus membuktikan bahwa semua perjanjian Allah terhadap nenek moyang orang Yahudi adalah benar.

Pelayanan Kristus juga bertujuan agar bangsa-bangsa yang bukan Yahudi turut memuliakan Allah karena kebaikan hati-Nya yang Dia nyatakan kepada mereka. Kitab Suci sudah banyak menubuatkan tentang hal tersebut. Misalnya, seorang pemazmur menulis, “Karena itu aku akan memuliakan Engkau di antara bangsa-bangsa yang bukan Yahudi, dan menyanyikan lagu pujian bagi-Mu.”

KONTEKS

Membaca Alkitab dalam konteksnya berarti melihat setiap ayat atau bagian Alkitab dalam kaitannya dengan ayat-ayat, pasal-pasal, dan narasi yang lebih luas di sekitarnya. Ini berarti mengetahui ide-ide, tema-tema, atau cerita-cerita lain yang dipikirkan oleh penulisnya ketika menuliskannya. Biasanya petunjuk-petunjuk tentang konteks ini kita dapatkan di awal kitab/ surat, di ayat-ayat sebelum dan sesudahnya dan juga melalui korelasinya dengan situasi yang relevan pada saat dituliskannya bagian tersebut.

PERBEDAAN INJIL SINOPTIK DAN INJIL YOHANES

Injil Sinoptik terdiri dari Matius, Markus dan Lukas. Persepktif penulisan dari ketiga Injil ini bisa dibilang “sangat Yahudi” (Jewish Perspective).

Secara kontekstual, Injil Matius dituliskan KEPADA orang-orang Yahudi, Injil Markus dituliskan KEPADA Bangsa Romawi, Injil Lukas dituliskan kepada Bangsa Yunani sedangkan Injil Yohanes, dituliskan kepada SELURUH DUNIA. Itulah mengapa di Kitab Matius, Markus dan Lukas kita tidak menemukan kalimat “karena begitu besar Kasih Tuhan kepada dunia ini ..”.

Injil Yohanes dituliskan setelah Paulus meninggal dunia. Allah memang memelihara Yohanes hingga hari tuanya sebagai saksi hidup bahwa Yesus sungguh Anak Allah yang hidup dan pernah menjadi manusia, hidup di antara manusia, sungguh mati – dikuburkan – sungguh bangkit di hari ketiga, dan naik ke surga. Jika kita perhatikan, Injil Yohanes sangat berbeda dari ketiga Injil Sinoptik dari segi konten dan bahasanya. Injil Yohanes sangatlah GRACE BASED – berdasarkan Kasih Karunia (seperti pengajaran Paulus).

Dalam Alkitab, Allah – sebagai inspirator utama dari penulisan seluruh Alkitab – memilih penggunaan tata bahasa dan struktur sebuah “surat (letter)” sebagai sebuah gaya penulisan yang mendominasi kitab- kitab di Perjanjian Baru. Berdasarkan konteks, surat-surat ini dapat kita kategorikan sebagai berikut:

1. SURAT-SURAT YANG DITUJUKAN KEPADA GEREJA KRISTEN (Ditulis oleh Paulus).

  • Roma
  • 1 Korintus
  • 2 Korintus
  • Galatia
  • Efesus
  • Filipi
  • Kolose
  • 1Tesalonika
  • 2 Tesalonika

Gereja Kristen ini adalah SEMUA manusia yang beriman kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat pribadi. Kita orang percaya termasuk dalam kategori ini. Ini berarti, surat-surat tersebut utamanya ditujukan kepada kita. Mulailah membaca dari surat-surat ini jika kita ingin cepat bertumbuh dewasa dalam iman kita.

2 SURAT-SURAT YANG DITUJUKAN KEPADA YAHUDI KRISTEN (Ditulis oleh Yohanes, Petrus, Yakobus atau Yudas )

  • Ibrani
  • Yakobus
  • 1 Petrus
  • 2 Petrus
  • 1 Yohanes
  • 2 Yohanes
  • 3 Yohanes
  • Yudas
  • Wahyu

Surat Yakobus, utamanya dituliskan kepada kedua belas suku Israel di perantauan (Yakobus 1:1)

Surat Petrus, utamanya dituliskan kepada orang-orang pendatang (dispora) yang tersebar di beberapa area (1 Petrus 1)

Galatia 2:7-8 TSI

Akhirnya mereka pun menyadari bahwa pelayanan yang Allah berikan kepada saya berbeda dengan Petrus. Allah menugaskan saya (Paulus) untuk memberitakan Kabar Baik kepada orang bukan Yahudi, sedangkan Petrus ditugaskan untuk memberitakan Kabar Baik kepada orang Yahudi. Karena Allah, yang sudah memberikan kemampuan rohani kepada Petrus sebagai rasul bagi orang Yahudi, ternyata juga sudah memberikan kemampuan yang sama kepada saya (Paulus), yaitu menjadi rasul bagi orang bukan Yahudi.

Meskipun semua Surat ini, ditujukan kepada ORANG KRISTEN, tetapi ingatlah audiens dan konteksnya berbeda.

Dari pengetahuan bahwa ada perbedaan audiens dan konteks, maka beberapa ayat yang selalu menjadi kontroversi akhirnya bisa kita pahami.

Contoh 1
Di Surat 1 Yohanes 1,
sebenarnya Yohanes menuliskan kepada gereja saat itu (audiens) yang mulai terpengaruh oleh paham Gnostisisme (konteks).

Kita bisa lihat kontras isi pesan dan bahasa yang digunakan di ayat 2,
karena penulisan 1 Yohanes 2 dimulai dengan ” Anak-anakku (audiens), hal ini kutuliskan kepada kamu (audiens)” – anak-anak di sini menunjukkan audiens yang dituju adalah orang percaya/ anak-anak Tuhan, termasuk kita.

Contoh 2

Ibrani 10:26-27

Sadarilah, bila kita terus-menerus sengaja berbuat dosa meskipun sudah menerima ajaran benar tentang Kristus, maka tidak ada lagi kurban yang bisa menghapus dosa tersebut. Siapa pun di antara kita yang hidup seperti itu, dia hanya tinggal menunggu hukuman terakhir yang mengerikan, yaitu ketika Allah menghakimi semua yang memusuhi-Nya dan membuang mereka ke dalam kobaran api yang sudah disediakan untuk membinasakan mereka.

Ayat ini, tidak berbicara kepada kita sebagai orang percaya yang sudah ditebus oleh Yesus. Karena keselamatan kita aman di dalam Yesus (Yoh. 10:28).

Ayat ini berbicara tentang orang Kristen Yahudi (konteks), yang setuju dan tahu bahwa Yesus adalah Mesias, akan tetapi memutuskan untuk tidak mempercayai Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat, melainkan malah kembali ke cara hidup tradisi lama mereka yaitu persembahan kurban untuk pengampunan dosa.

Tentunya tidak serta merta berarti bahwa kita hanya membaca Firman Tuhan di bagian yang dituliskan kepada kita saja, karena seluruh Alkitab pastinya akan berguna untuk kita. Mintalah penerangan dari Roh Kudus agar kita dapat memiliki kebijaksanaan dari Tuhan untuk membedakan (to discern) dan menangkap maksud Tuhan secara benar dari pembacaan Firman Tuhan.

Timotius 3:16 TSI

Seluruh Kitab Suci ditulis sesuai dengan perkataan Allah sendiri. Semuanya berguna untuk mengajar, menegur, menunjukkan kesalahan, dan mendidik kita untuk hidup benar di mata Allah.

My Beloved,

Tanpa pemahaman audiens dan konteks yang benar dan tanpa mengenakan grace lens, maka ayat-ayat tersebut seakan terdengar bertentangan satu sama lain sehingga akan membingungkan. Dengan grace lens, seluruh Alkitab akan menjadi berkesinambungan dan konsisten dari awal sampai akhir, menjadi sebuah surat cinta dari Tuhan melalui Yesus, kepada kita anak-anak-Nya.

Scroll to Top